• 1 kg kopi = kira-kira 100 cangkir
  • Seduhlah kopi dengan air panas 90-95 derajat celcius

Adi, teman saya sewaktu SMA membawakan buah tangan spesial. Walaupun namanya Adi, teman saya ini bukan pria melainkan wanita hehehe karena nama lengkapnya juga Fitri Adi Anugrah. Beliau ini anggota milis jalansutra.. nah, kepada beliau ini saya memesan kopi. Bukan kopi biasa lho, karena kopi ini special menggunakan tambahan “Vitamin G”. Khusus dipesan dari satu kedai di Ulee Kareng. Pesannya pun harus 3 hari sebelum diambil hehehe

Ditebus dengan harga Rp 80.000, saya mendapatkan 1 kg kopi bervitamin ini. Semerbak harum rempah menyeruak ketika kantung “keresek” berlapis saya buka. Sebelum dibuka pun, mobil saya sudah dipenuhi aroma rempah dari kopi ber-“vitamin G” ini. Biasanya aroma kopi menelan aroma lainnya, seingat saya aroma durian pun bisa tertutup oleh aroma kopi. Anehnya, kopi didepan saya saya ini tertutup aromanya oleh harum rempah.

Tampilan kopi ini pun sangat “kasar”. Biji kopi yang sudah di-sangrai bersama dengan bahan tambahan “G” tampaknya dihaluskan tanpa menggunakan mesin. Kemungkinan besar ditumbuk sehingga ukuran butirannya pun menjadi “ekstra besar”. Lebih coarse dibandingkan untuk digunakan menggunakan French Press. Warnanya hitam gosong, pertanda gaya sangrai yang digunakan sama dengan gaya melayu atau cina selatan. Correct Me If I’m Wrong.

“Vitamin” dalam kopi ini sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Bangsa di Asia Tengah dan Timur sudah mengenal sejak dulu kala. Bangsa Jepang mengenalnya sebagai campuran bumbu. Mereka menggunakannya semenjak zaman Jomon, sekitar 10.000 – 300 tahun SM, untuk membuat Shichimi (Tujuh Bumbu). Tanaman ini disebut Taima di Jepang. Taima adalah bahan utama membuat Onomi, nah Onomi ini yang dipakai membuat Shichimi Togarashi (lada merah bubuk yang rasanya pedas, biasa dipakai saat menyantap ramen). Kok bisa ya? Ternyata Jepang memang memberi izin khusus untuk menanam tanaman ini sebagai bahan makanan. Jika anda sedang berada di Tokyo mungkin bisa mencici makanan yang ada di Asa Restaurant.

Hidangan restoran ini semuanya berbahan vitamin G dan anda bisa cek menunya jika anda googling.¬†Bagaimana di Indonesia? Walau mengandung 8 asam amino esensial, kesalahpahaman tentang “vitamin G” ini sudah mengakar. Image-nya menjadi negatif akibat penyalahgunaan dengan cara dibakar daunnya. Dulu saat tinggal di Pangkalan Susu (dekat perbatasan dengan Aceh), ibu saya selalu bercerita tentang nasi yang ditanak beserta daunnya atau gulai yang menggunakan bijinya. Correct Me Again If I’m Wrong. Rasanya sangat enak menurut ayah saya. Saya sih lupa hehehe cuma icip via kopi. Jadi bukan Jepang saja yang memakainya sebagai bumbu, sebagian orang Indonesia pun memakainya untuk bumbu.

Pusing menghabiskannya sendiri, kopi ini pun saya bagi ke Adi W. Taroepratjeka. Secara tak sengaja, cupping pun dilangsungkan di kedai kopi “Tjap Putri Duyung” Parisj Van Java Mall. Kebetulan ada seminar tentang kopi yang rutin dilakukan saban Rabu sore dan saya diundang secara tak sengaja pula. Ceritanya beberapa hari sebelumnya saya ngobrol dengan salah satu pegawai kedai itu. Terlontar dari mulutnya komentar kurang baik tentang kopi hasil produksi salah satu roaster di Bandung.¬†Obrolan mulai memanas karena dia bicara tanpa fakta. Ujung-ujungnya dia mengundang saya datang ke seminar kopi untuk bertemu coffee master-nya yang jadi juara dimana mana, katanya.. Wah boleh juga nih, nambah pengalaman. Saya ajak juga deh coffee master, Kang Adi hehehe.

Ujung-ujungnya semua went well, malah Kang Adi dengan gaya persuasif-nya bisa “meracuni” kurang lebih 5 pegawai kedai itu untuk mencicipi kopi ini. Kang Adi meyakinkan mereka bahwa kopi “G” ini adalah kopi gayo organik hahaha. coffee master kedai itu yang ternyata saya kenal, juga ikut icip-icip. Seorang pegawai lainnya yang ikut mencicipi ternyata menjadi cukup sumringah, “wah ini enak kopinya, ada rasa coklat coklat gitu”, komentarnya. Sambil senyum-senyum dan malu-malu, dia tidak menolak ketika kita menawarkan kopi padanya untuk dibekal pulang.

Rasa kopi “G” yang diseduh sore itu rasanya berbeda dengan seduhan pertama yang saya coba di rumah. Dugaan saya mungkin karena penyimpanan yang kurang baik. Sore itu kopinya terasa lebih light, aroma rempah sebelum diseduh menjadi lebih tajam dan perlahan tertutup bau kopi saat diseduh, acidity hampir tidak terasa dan flavournya mengisyaratkan kecocokan jika dipadu padan dengan susu kental manis. Aftertaste-nya tidak terlalu clean dan tidak terasa manis. Alhamdulillah tak ada rasa leng-lengan (melayang) seperti sebelumnya ^^’ hehehe

Malam itu ditutup dengan suguhan gratis berupa dua cangkir kopi sulawesi dan pelajaran slurping. Slurping ternyata gampang gampang susah. Melihatnya seperti mudah padahal ada tekniknya ;p lidah saya jadi terbakar dan sempat batuk batuk gara gara tidak menguasai tekniknya. Ah benar benar cupping tidak terencana yang berkesan. Cupping hari itu bahkan membuat coffee master kedai kopi tjap ikan duyung bersedia melakukan Ethiopian Coffee Ceremony, hari selasa besok. Seperti apa ECC ini? Kita tunggu tanggal mainnya.